Tak Penting Ada Judul
Seperti biasa, setelah aktivitas selesai aku kembali pulang, dan jalan yang aku lalui masih tetap sama. Akir - akhir ini telah memasuki musin kemarau...rasanya kering kerontang dan berhawa sangat panas. Dari jauh aku lihat bapak tua tukang becak yang pada akhirnya sering parkir mangkal ditempat rindang sebelah rumah. Ku hitung sudah beberapa kali ini aku melihatnya. Entah apa yang ada dipikirannya, apa lelah, apa cuma berteduh karena terlalu panasnya cuaca, atau mgkin putus asa karena tak ada lagi atau lebih tepatnya sudah jarang orang naik becak karena sudah banyak yang memiliki kendaraan sendiri.
Pertama melihatnya, aku memberinya beberapa potong pakaian masih layak pakai, kemudian sebungkus nasi aku sertakan. Beberapa hari lalu aku juga melihat kedua kalinya, dan aku melakukan hal yang sama, sebungkus nasi aku sodorkan untuk makan siang. Untuk ketiga kalinya aku hanya melewatinya tanpa menyodorkan apa-apa, hanya sapaan ringan dan senyuman. " dimana ya anaknya? ", tanyaku dalam hati. Apa setega itu melihat bapaknya yang berusia senja mengayuh becak yang mungkin umurnya tak jauh beda dengannya.Sudah terbiasa buatku selalu bertanya dalam hati ketika melihat seseorang yang berusia lebih dari bapakku atau bahkan hampir sama, yang masih bekerja penuh layaknya mereka masih muda.
Untuk keempat kalinya , saat aku bertemu, aku hanya menyampaikan pesan ibuku. Dengan senyum dia mengangguk mengerti. Aku lihat lamat-lamat wajah letih dan keriputnya. Aku lihat dalam-dalam, dan aku percaya itu aura ketulusan walaupun hanya dengan menyapa dan mengangguk yang menandakan mengerti pesan yang kusampaikan.

