Tak Penting Ada Judul
Seperti biasa, setelah aktivitas selesai aku kembali pulang, dan jalan yang aku lalui masih tetap sama. Akir - akhir ini telah memasuki musin kemarau...rasanya kering kerontang dan berhawa sangat panas. Dari jauh aku lihat bapak tua tukang becak yang pada akhirnya sering parkir mangkal ditempat rindang sebelah rumah. Ku hitung sudah beberapa kali ini aku melihatnya. Entah apa yang ada dipikirannya, apa lelah, apa cuma berteduh karena terlalu panasnya cuaca, atau mgkin putus asa karena tak ada lagi atau lebih tepatnya sudah jarang orang naik becak karena sudah banyak yang memiliki kendaraan sendiri.
Pertama melihatnya, aku memberinya beberapa potong pakaian masih layak pakai, kemudian sebungkus nasi aku sertakan. Beberapa hari lalu aku juga melihat kedua kalinya, dan aku melakukan hal yang sama, sebungkus nasi aku sodorkan untuk makan siang. Untuk ketiga kalinya aku hanya melewatinya tanpa menyodorkan apa-apa, hanya sapaan ringan dan senyuman. " dimana ya anaknya? ", tanyaku dalam hati. Apa setega itu melihat bapaknya yang berusia senja mengayuh becak yang mungkin umurnya tak jauh beda dengannya.Sudah terbiasa buatku selalu bertanya dalam hati ketika melihat seseorang yang berusia lebih dari bapakku atau bahkan hampir sama, yang masih bekerja penuh layaknya mereka masih muda.
Untuk keempat kalinya , saat aku bertemu, aku hanya menyampaikan pesan ibuku. Dengan senyum dia mengangguk mengerti. Aku lihat lamat-lamat wajah letih dan keriputnya. Aku lihat dalam-dalam, dan aku percaya itu aura ketulusan walaupun hanya dengan menyapa dan mengangguk yang menandakan mengerti pesan yang kusampaikan.
Siang ini aku menyusuri jalan yang masih sama seperti biasanya. Dari jauh terlihat becak parkir, " Wah, bapak tua itu," kataku dalam hati. Aku terus berjalan mendekat, berpikir apalagi yang akan kuberikan untuknya. Aku mulai menyapa seperti yang sudah aku lakukan. Aku teringat masih ada baju sisa yang aku simpan, buru - buru aku mengambilnya takut bapak tua itu keburu pergi. Setelah aku kembali terlihat ia sedang memompa ban becak tuanya. Aku serahkan kresek berisi baju dan menanyakan kenapa. " Ban kempes, bocor ", katanya datar. " Ditambal aja pak, dari pada pulang jalan dengan menuntun becak?", kataku lagi. Dia terduduk memegang pompanya, lalu mengatakan padaku, " Hari ini sangat sepi, saya tidak dapat uang sama sekali." Aku menambahkan, " ya memang pak hari ini jalanan amat sepi sekali.", mungkin maksudku hanya untuk berbagi kata - kata yang aku tahu kata itu merupakan kabar yang kurang menggembirakan buatnya. Langsung saja aku menyuruhnya menambal ban becaknya dan aku yang membayarnya.. Terlihat sekali wajahnya gembira, langsung dia bangkit dan menyimpan pompanya. Kukeluarkan uang sepuluh ribu rupiah, dan memberikan padanya. " ongkos tambalnya cuma lima ribu neng." katanya pelan. " simpan saja pak buat jaga-jaga." Sekali lagi kulihat raut mukanya gembira. Tak lupa sebelum pergi ia ucapkan terima kasih dan sebaris kata pengharapan, yang mungkin menurutku itu sebuah doa. " Terima kasih dan semoga neng panjang umur." sambil berjalan menuntun becaknya pelan. Aku ingat sekali bapak tua itu mengucapkannya dua kali. " Amiiin," kataku menimpali.
Sore ini terasa kepalaku berat sekali, mungkin terlalu banyak yang kupikirkan. Segera kubaringkan tubuhku diatas kasur, mempersiapkan dengan tepat untuk melihat acara TV kesukaanku, " Master Chef " tentunya di TV kesayangan anda. Mmmm..... terdengar kata - kataku seperti iklan amatir. kurasa acara ini memang cocok untuk mengurangi sedikit saja beban di kepalaku yang over load karena terlalu banyak berpikir. Disebelahku tergeletak majalah usang beberapa tahun lalu yang masih sering ku bolak - balik saat jenuh datang tiba - tiba tanpa ku undang. Ku coba menyisir lembar demi lembar berharap ada inspirasi baru yang muncul di saat - saat seperti ini, and i hope so. Tiap lembarnya tak pernah luput dari mataku, terkadang bosan melihar tiap lembarnya yang isinya tetap dan sama, bahkan sampai aku hafal tiap judul bahkan kata - katanya. Eit....tunggu dulu, sepertinya judul itu belum familiar di mataku. Tunggu.....aku buka halaman sebelumnya, bertuliskan " SPBU PLUS TAK SEKEDAR ISI BENSIN " . Ku ingat - ingat lagi apa halaman ini sering terlewatkan olehku? Perasaanku tidak ada yang terlewatkan selama aku kerap membolak balik isinya. Tapi kenapa tidak terdeteksi? pikirku panjang. Tapi apalah itu yang penting sekarang radar mataku telah mendeteksi sinyal artikel itu. Ku baca pelan - pelan...., tiap gambar masih aku ingat. Mall, bookstore, supermarket, butik, restoran...... SPBU Gatot Subroto One Stop Shopping. Deretan kata dan gambar - gambar itu ku cerna pelan - pelan, sedikit banyak mengingat - ingat apa yang berhubungan dengan semua itu sampai pada akhirnya aku mengingat bapak tua tukang becak tadi. Aku mulai membacanya dari awal artikel.
Mungkin setiap hari, mungkin jam, menit atau bahkan detik orang - orang yang berhenti di pom bensin itu berpuluh - puluh jumlahnya. Entah sekedar istirahat di tempat teduh, mengisi berliter - liter bensin premium, petromax atau apa saja yang menjadi bahan bakar mobil mereka, atau juga yang biasa terjadi mereka hanya ingin berbelanja dengan fasilitas yang sudah disediakan oleh pihak SPBU. Mereka berbelanja dengan membayar uang cash dari dompet yang terlihat tebal karena terlalu banyak uang yang disimpan, atau hanya dengan sekali gesek semua pembayaran lunas. Keluar dengan bawaan yang banyak. Tangan kanan kirinya terkadang terlihat tak muat oleh belanjaan. Mungkin mereka bisa, anda dan juga aku bisa melakukan hal yang sama. Menikmati semua yang telah ada dan tersedia. Tapi aku selalu tekankan hatiku untuk berpikir, apa bisa dan rela menikmati semuanya? sementara aku terlalu sering disadarkan oleh hal - hal kecil seperti tadi siang.
Ironis memang, disatu sisi orang bisa melakukan apa saja yang mereka mau, yang mereka inginkan. Tapi disisi lain hanya untuk menambal ban bocor saja tak ada uang sepesar pun untuk membayarnya. Apa dunia ini terlalu kejam atau sinisnya? Dan pertanyaan ini terlepas dari sekedar takdir seseorang, terlepas dari individu yang punya kehidupan lebih beruntung. Disini saya tidak mencoba untuk membawa kepemikiran yang berlebihan, dalam artian mencampuri pemikiran semua orang bahwa apapun yang dilakukan tiap orang adalah haknya, toh itu adalah kehidupannya. Atau sekedar menyuruh untuk berempati antara satu orang dengan orang yang lainnya. Sekali lagi saya katakan tidak. Karena saya percaya setiap manusia mempunyai nurani yang bisa melihat dengan ketidakterpaksaan. Walaupun pada kenyataannya kehidupan sudah berubah, ketimpangan sosial terjadi begitu menukik tajam. Yang kaya akan semakin kaya, begitu juga dengan si miskin akan semakin miskin. Sehingga mau tidak mau dua dunia ini seperti dipisahkan oleh dinding tinggi yang membatasi keduanya...Itulah realita hidup yang terjadi sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar