Editor's Note Sebuah Majalah
Teman terbaik dimasa lalu saya tiba2 SMS. Isinya kurang lebih seperti
ini " hai, lg ngapain? q lagi bosen hidup bohemian. Aku pingin kaya.
Kemarin q ditawarin kerjaan sama teman. Sama dengan kerjaan yang dulu.
Kira-kira enaknya minta gaji berapa ya? Aku dah gak tahu harga pasaran
nih".
Terus terang saya surprise dengan SMS tersebut.
Pertama, karena saya sudah hampir setahun tidak pernah SMSan dengan
teman baik yang - dia benar - sangat bohemian. Kedua, dia mau kerja
tetap! kalau bumi bisa gempa karena hal-hal luar biasa seperti ini,
mestinya rumah saya sudah runtuh karena SMS-nya.
Selama ini
dia bahagia dengan hidupnya. Menenggelamkan diri dalam dunia seni, tak
pernah lelah sekolah lagi, dan walaupun kerap ke luar negeri dia tidak
pernah punya banyak uang, Dia bahagia dalam "kemiskinannya". Bahagia
dengan kelajangannya. Bahagia dengan dunianya.
Entah
darimana gagasan "ingin kaya" ( mesti saya menanyakan itu sejak awal ).
Saya sempat bercanda dengan membalas SMSnya. "kok pingin kaya??mau beli
laki sepulau?" Dia kembali menegaskan (masih lewat sms), bagus deh kalo
bisa begitu :-).. Enggak, aku cuma bosen hidup bohemian dan enggak punya
duit. Padahal mestinya aku nabung untuk bisa ngidupin lagi mimpi-mimpi
lamaku yang belum kesampaian gara-gara miskin."
Menghidupkan kembali mimpi-mimpi lama! She's damn right! SETIAP
ORANG PASTI PUNYA MIMPI. MASALAHNYA , KITA, SAYA, SUDAH TERJEBAK DALAM
RUTINITAS DAN HANYA MENJADIKAN MIMPI ITU SEBAGAI "BUNGA TIDUR" .
Bukan sesuatu yang diusahakan. Tiba-tiba, ketika saya "tenang tertidur
dan tersadar", si sahabat ngoceh soal mengejar mimpi. Dia membangunkan
saya.
Rasanya saya harus berhenti jadi "ZOMBIE" yang hanya berjalan mengikuti waktu, bukan berjalan untuk meraih mimpi.
Artikel diambil dari sebuah majalah.



