Sabtu, 28 April 2012

Editor's Note Sebuah Majalah

 Editor's Note Sebuah Majalah

 Teman terbaik dimasa lalu saya tiba2 SMS. Isinya kurang lebih seperti ini " hai, lg ngapain? q lagi bosen hidup bohemian. Aku pingin kaya. Kemarin q ditawarin kerjaan sama teman. Sama dengan kerjaan yang dulu. Kira-kira enaknya minta gaji berapa ya? Aku dah gak tahu harga pasaran nih".
      Terus terang saya surprise dengan SMS tersebut. Pertama, karena saya sudah hampir setahun tidak pernah SMSan dengan teman baik yang - dia benar - sangat bohemian. Kedua, dia mau kerja tetap! kalau bumi bisa gempa karena hal-hal luar biasa seperti ini, mestinya rumah saya sudah runtuh karena SMS-nya.
      Selama ini dia bahagia dengan hidupnya. Menenggelamkan diri dalam dunia seni, tak pernah lelah sekolah lagi, dan walaupun kerap ke luar negeri dia tidak pernah punya banyak uang, Dia bahagia dalam "kemiskinannya". Bahagia dengan kelajangannya. Bahagia dengan dunianya.
      Entah darimana gagasan "ingin kaya" ( mesti saya menanyakan itu sejak awal ). Saya sempat bercanda dengan membalas SMSnya. "kok pingin kaya??mau beli laki sepulau?" Dia kembali menegaskan (masih lewat sms), bagus deh kalo bisa begitu :-).. Enggak, aku cuma bosen hidup bohemian dan enggak punya duit. Padahal mestinya aku nabung untuk bisa ngidupin lagi mimpi-mimpi lamaku yang belum kesampaian gara-gara miskin."
       Menghidupkan kembali mimpi-mimpi lama! She's damn right! SETIAP ORANG PASTI PUNYA MIMPI. MASALAHNYA , KITA, SAYA, SUDAH TERJEBAK DALAM RUTINITAS DAN HANYA MENJADIKAN MIMPI ITU SEBAGAI "BUNGA TIDUR" . Bukan sesuatu yang diusahakan. Tiba-tiba, ketika saya "tenang tertidur dan tersadar", si sahabat ngoceh soal mengejar mimpi. Dia membangunkan saya.
      Rasanya saya harus berhenti jadi "ZOMBIE" yang hanya berjalan mengikuti waktu, bukan berjalan untuk meraih mimpi.


Artikel diambil dari sebuah majalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar